Cinta suami istri salah satu perhiasan hati dan nikmat dunia, yang akan menjadi pelengkap ibadah pula dalam rumah tangga. Namun bukankah hati bukanlah benda mati, yang dapat di arahkan kemana saja di inginkan?. Tentu saja hati tidak dapat di paksa cinta atau tidak cinta, karena itulah Allah menuntun keadilan pada perkara lahiriah (Bagaimana memperlakukan hak dan kewajiban), dimana suami istri di haruskan saling memperlakukan dengan makruf. Maka jika cinta tidak di dapat, raihlah dengan akhlakul karimah, bawalah kepada tujuan meraih cinta Allah. Inilah yang akan menjadi obat kesepian dan kegersangan hati.
"Bergaulah dengan mereka secara patut. Bila kamu tidak menyukai mereka, (Maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak" QS. 4: 19
Rasulullah, menyangkut kualitas cinta dan birahi kepada istri-istrinyapun, tak dapat serta merta mampu memberikan kepuasan hati kepada semuanya, hingga dalam sebuah hadist, di abadikan doa beliau kepada Allah atas cintanya yang memihak karena batas manusiawinya.
"Inilah batas kemampuan yang ku miliki, maka janganlah kecam aku menyangkut apa yang Engkau milki tapi tidak kumiliki" (HR.at Tirmidzi)
Sudah sifat perempuan dengan kelembutan hatinya yang perasa dan mendambakan bisa merasakan sentuhan cinta atau mencintai, namun janganlah karena itu semua kita tampil jadi pengungkit dan penggugat apa yang tidak bisa dipaksakan, yang akhirnya cinta tak tumbuh malah permusuhan yang meracuni rumah tangga. Jangan membelenggu hati suami, biarlah hati itu miliknya sejati. Jangan keruhkan hati, atas cinta yang tidak Allah waristkan....karena Dialah yang Maha mewarisi. wallahu'alam
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar