Rabu, 12 Maret 2014

Mi'raj Cinta




Bulan pada suatu malam menyimpan sebuah rahasiah tentang sebuah cinta yang terbang lepas dari kuasa, masuk dan rebah diatas sebuah peraduan. Dia datang menembus dimensi dengan kecepatan dalam putaran arus memecah batu-batu, mengurai ikatan-ikatan, menyibak apa yang turun kedalam hati, muncul dari kegelapan dengan wajah menatap jauh tak berujung menyampaikan sebuah pesan tanpa suara dihalau senyap malam dibatasi mimpi hilang merayap. Gambaran wajahnya seperti gerimis dengan bisikan misterius, muncul dari balik jendela jiwa yang terpasung,jiwa yang dalam diam mencuri pandang cahaya bulan sepenggalan.

Jika kau mencintai aku, berhentilah menghitung waktu, aku bukan tubuh, aku bukan keindahan, aku bukan awal, aku bukan akhir, aku hanya sifat yang sudah terkunci. Aku adalah sebagaimana engkau, pada akhirnya.

Jika kau mencintai aku sebagaimana, aku yang terpanggil karena cintamu, berhentilah menuhankan akalmu, menuhankan panca indramu, menuhankan harapanmu, menuhankan nafsumu, menuhankan syarat dalam doamu, menuhankan cintamu sendiri, karena aku tidaklah hidup dalam pusaran waktu dimana kau berdiri saat ini, sebagaimana engkau yang telah menemukanku, aku menemukanmu melalui pengetahuan dan kuasaNya, bukan pengetahuan dan kuasaku, bukan pengetahuan dan kuasamu.

Terlalu senyap….
Jiwanya belum lagi bisa mengurai…..
Biarkan saling merindukan….
Biarkan saling menunggu….
Biarkan dalam tangis…
Biarkan dalam tawa-tawa yang tersembunyi….
Sampai waktu yang ditentukan
Sampai terbuka pintu-pintu kegaiban….
Dimana mimpi takakan pernah berakhir…..


Biarkan aku yang terpanggil dari rintihannya yang terakhir… By. Alfi Arni Makhtaf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar