by aa.makhtaf
Rujukan seorang muslimah dalam usaha
menata dan memelihara dirinya adalah nilai-nilai qurani, sunnah Rasul dan
nilai-nilai etika yang berlaku disekitar
lingkungan sosialnya, keluarga, rumah tangga, pertemanan, bertetangga atau
dalam pergaulan bermasyarakat yang lebih luas, yaitu tata laku kesopanan yang
menyebabkan setiap orang disekitarnya menjadi nyaman_ syukur jika dapat menjadi
teladan dan menginspirasi.
Wanita sholeha wajahnya memancarkan energy
positip yang memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang memandangnya, tingkah
lakunya dan tutur katanya memberikan sinyal keimanan dan ketakwaan, hingga
setiap orang yang berdekatan dengannya ikut merasakan ajakan keimanan dan
ketakwaannya.
Sekurang-kurangnya ada tiga prilaku
kebiasaaan buruk wanita muslimah yang menjadi perhiasan hati berpenyakit:
1.
Enggan berbuat baik kepada sesame,
padahal ia memilki kemudahan untuk melakukannya. Sekedar meminjamkan buku
bacaan atau sekedar member kelapangan tempat duduk.
2.
malas mengerjakan ibadah sunnah (shalat
dhuha, tahajjud, shaum sunnah, atau sekedar membaca alquran)
3.
berleha-leha dengan perbuatan mubah namun
berlebihan dan melalaikan. Asyik nonton acara tv kesayangan, sampai menunda
panggilan shalat.
Wanita sholeha bukan berarti sempurna
luput dari cacat dan cela, karena manusia sebagaimana fitrahnya memilki
keseimbangan bagi hakekat penghambaannya yaitu kelebihan dan kekurangan, juga
dilengkapi potensi akan berbuat kesalahan dan dosa. Ada masa seorang wanita akan terpeleset dan
limbung dalam kesalahan dan dosa, kelalaian dan lupa, entah sebagai hamba Allah
dalam mennegakkan kewajiban ibdahnya, maupun sebagai wanita yang tidak jauh
perannya yaitu sebagai ibu, anak, istri, sahabat dan pribadi yang
bermasyarakat. Ada kalanya wanita tersandung khilaf terkurung kebiasaan buruk,
terpeleset karena hanyut pada apa yang menarik hatinya. Rasa cinta cemburu, ingin mendapatkan pujian
sering kali membuka pintu bagi wanita untuk terjebak dalam tingkah laku dan
kebiasaan buruk. Maka sudah selayaknya
seorang muslimah yang senantiasa mengharapkan Ridha Allah, bertekad taubatan
nasuha, intropeksi dan segera memperbaiki diri dan menata ulang dirinya,
sebagai usaha hijrah dan jihadnya, memperbaiki keburukan menjadi kebaikan,
berpindah dari lalai kepada ketaatan dan meningkatkan kualitas kebaikan yang
telah ada dalam ibadah dan mu’amalah.
Mari kita perbaiki diri dan bagaimana
nilai-nilai quranni dan sunnahnya menuntun kita untuk terus berusaha menjadi
baik, lebih baik dan memelihara kebaikan serta tidka berputus asa dalam usaha
perbaikan.
A. Tuntunan taubatan nasuha
Ucapan
istigfar merupakan pembuka pintu utama tekad untuk sungguh-sungguh bertaubat, ISTIGFAR,
merupakan kesadaran diri dan kewaspadaan atas segala sikap dan lintasan hati yg
didalamnya terkandung penyakit. Istigfar merupakan perwujudan dari kerendahan
hati dan pengakuan diri atas Dia Allah yang maha mengawasi. Istigfar ,
merupakan kehendak untuk memperbaiki diri dan mensucikan hati, istigfar tidak
hanya sekedar ritual, melainkan melahirkan tingkah laku yang senantiasa terjaga
dan mawas diri. Istigfar merupakan pintu pertama.
Dari
Abu Hurairah Rasul saw bersabda: demi Allah aku Istigfar dan bertaubat kepada
Allah sehari lebih 70x (HR.Bukhari) kemudian di iringin dengan salah satu doa
Rasulullah:
Dari
Tsaubah, Rasulullah saw ketika selesai shalat mengucapkan istigfar sebanyak 3x
lalu berdoa: Allahhumma antassalamu wa minkassalamu tabaarakta dzal jalaa li
walikrami.
“Maka mengapa
mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Maidah [5] ayat 74)
(QS Al-Maidah [5] ayat 74)
Hakekat taubat,
adalah tekad yang sungguh-sungguh dengan disertai tindakan nyata yang berusaha memperbaiki diri, di sertai kekuatan hati
untuk tidak bosan dan berputus asa. Maka
seorang wanita muslimah, taubatnya adalah perubahan diri kea rah yang lebih
baik, tidka lagi hanya penyesalan, namun perbuatan nyata. Yang semula menunda-nunda
shalat kini ia bersegera, yang semua melalikan waktu kini ia memastikan diri
setiap hari berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikan. Taubat adalah
perubahan bukan angan spiritual.
B.
Intropeksi
diri
Dalam suasana
hening, nyaman….mungkin saat telah selesai shalat tahajud, ketika suasana malam
begitu syahdu…tanyalah kepada diri tentang:
1. Apakah
Kebaikan yang seharusnya dilakukan namun di tinggalkan?
2. Apakah
dosa yang kerap dilakukan hingga hati menjadi gersang?
3. Sudahkah
diri ini memberikan manfaat bagi orang laian, atau sekurang-kurangnya untuk
diri sendiri agar tidak menjadi beban bagi orang laian?
4. Renungkanlah,
shalat, puasa, tadaarus, dzikir dan ibadah-ibdah sunnah yang mendekatkan diri
kepada Allah, sudah khusukah?, sudah tumaninahkah? Sudah istikomahkah?. Jangan-jangan
yang wajibpun sering dilakukan sambil berlalu.
Bertanyalah sebanyak-banyaknya tentang perangai diri, tutur
kata, tingkah laku, prasangka buruk, boleh jadi malah mencerminkan pribadi yang
kusut masai, membuat orang lain tidak nyaman, melalikan orang-orang yang
mendekat, bertanyalah sebanyak-banyaknya, sudahkah tubuh ini kita syukuri
dengan merawatnya luar dan dalam, dijaga kebersihannya, dijaga keindahannya dan
di jaga kesehatannya?. Dan bertanyalah
tentang bagaimana memanfaatkan waktu, karena disanalah kunci motifasinya…..waktu
yang di isi dengan keburukan dan kelalaian maka buruklah diri, dan waktu yang
di isi dengan ketaatan dan kebaikan maka baiklah diri.
C.
Tips dan
Trik Recovery
Semangat
dan langkah kongkrit memperbaiki diri, seringkali terpatahkan oleh kepribadian
diri yang terlewat untuk kita kenali terlebih dahulu, "kamu
pasti akan di uji dengan hartamu dan DIRIMU..."Qs.3:186 Setiap diri memiliki kecenderungan unik yang akan mengujinya
seumur hidup, membaca diri akan membuat anda mengenal musuh dlm diri sendiri.
Manusia diciptakan punya rasa bosan, keluh kesah, malas dan suka tergesa-gesa,
kikir bahkan kepada diri sendiri. Itulah
sifat fitrah manusia, belum lagi setiap diri diciptakan memiliki kepribadian
yang berbeda-beda yang akan menentukan bagaimana ia merespon setiap kejadian
dan keadaaan diri dan lingkungannya. Saya
sarankan anda membaca buku berjudul “ membaca kepribadian” karya Gergory G
young. Buku tersebut akan membantu kita
lebih mengenal diri. Semakin kita
mengenal sifat baik dan buruk dalam diri, maka akan semakin mudah kita
memperbaiki diri dan mengendalikannya bahkan mengkondisikan diri. Proses recoveri
diri...seperti mengambil duri dalam daging...Membaca pribadi diri, seni membawa
diri,memaklumi diri,.. ujian dari dalam diri akan seumur hidup, semakin
mengenal diri semakin tahu mensiasati diri. Maka dalam proses perbaikan diri
lakukanlah langkah berikut:
1.
Membaca diri, kenali
sifat dan kebiasaan diri….dalam uasaha ini kita bleh membuka diri untuk
menerima sebanyak mungkin penilaian orang-orang disekitar kita. Bertanyalah dan
biarkan komentar mereka membantu kita membaca diri.
2.
Mulailah dengan yang
paling mudah, terutama jika kita
termasuk orang yang pemalas dan mudah bosan. Tetapkan kebiasaan baik yang
paling mudah, misalnya sekedar mengerjakan shalat pada waktunya meski diakhir
waktu, atau sekedar mau mendengarkan ceramah di radio jika masih enggan
mendatangi majlis ta’lim
3.
Mengikuti tuntunan
alquran dan sunnah. Allah memberikan kemudahan, maka ambillah kemudahan itu,
Allah menjanjikan ampunan maka jangan mempersulit diri dengan rasa putus asa,
Allah memberikan pahala bagi niat yang baik dan dua pahala setelah melakukannya
maka mulailah motivasi diri dengan niat yang baik.
D.
Pengendalian diri
Pengendalian diri adalah fase paling menantang dalam usaha
kita memperbaiki diri, karena ssat itu kita akan berhadapan dengan diri
sendiri. Rasa malas, bosan, kesibukan
dan godaan menegnai sesuatu yang menyenangkan seringkali sedikit-demi sedikit
menarik kita untuk kembali lalai. Maka strategi
pengendaliandiri bukan hanya usaha menahan diri atau memaksakan diri, namun
bagaimana kita bias menemukan cara agar kita dapat mempertahankan apa yang
telah dimulai. Ikutilah langkah-langkah
berikut:
1.
Miliki pergaulan dengan
lingkungan dan orang-orang yang sholeh, yang dapat member kita teladan dan
motivasi positip, sekurang-kurangnya dapat menumbuhkan rasa malu ketika kita
merasa tidak sebaik mereka.
2.
Mendatangi majlis ta’lim,
recovery hati dan cara berfikir dengan mendatangi tempat-temapat dimana banyak
disebut nama Allah, banyak mendengar ajakan kepada kebaikan, bertemu dan duduk
bersama mereka yang berkehendak untuk memperbaiki diri. Lebih banyak mendengar
maka akan lebih banyak intropeksi diri
3.
Tanamkan budaya baca,
agar kita dapat terus memperkaya wawsan dan menyegarkan inspirasi positif
4.
Pelihara silaturahmi,
datangilah mereka yang dapat melembutkan hati, membantu kita untuk ingat
bersyukur dan merendahkan hati. Datangi jangan selalu ingin di datangi
5.
Lakukan produktifitas
baru setiap hari, dari yang mudah saja. Sekedar membersihkan pakaian, mengepel
lantai atau sekedar menawarkan kebaikan untuk adik, kaka, orang tua….mungkin
sekedar menyapu halaman yang akan di lalui tetangga. Intinya apapun peran kita,
pastikan kita produktif meski tidak menjatuhkan keringat
6.
Ganti ibadah atau
kebaikan yg tertinggal atau bosan , dengankebaikan yang lain atau
sekurang-kurangnya gantilah dengan memperbanyak berdzikir.
7.
Tutup perbuatan buruk
yang telah terlanjur dilakukan dengan perbuatan baik yang lain. Shalat yang
tidak khusuk ganti dengan sedekah, perkataan yang buruk ganti dengan meminta
maaf.
8.
Bergabunglah dengan
komunitas yang dapat menginspirasi, atau sekedar ikut berperan aktif dengan
kegiatan lingkungan sekitar.
9.
Shalat berjama’ah,
usahakan meski hanya satu waktu atau sekedar dilakukan di rumah
10. Baik sekali jika seorang wanita memiliki keterampilan rumah
tangga yang bernilai ekonomis, lakukanlah meski dengan modal yang sangat
sedikit dan keuntungan yang tidak banyak. Lakukan maka kita akan semakin
semangat
11. Hati menjadi tentram dan lembut, jika kita membiasakan diri
mempermudah orang lain. Member memperkaya hati.
12. Selalulah update wawasan baru terutama yang berhubungan
dengan peran atau aktifitas kita sehari-hari. Jika anda seorang penulis anda bias
mengikuti situs yang meng update informasi tentang karya tulis baru atau
sekedar berbagi cerita dengan sesame penulis.
13. Temukanlah figure yang dapat menjadi motifasi positif, tidak
harus para tokoh atau para ulama yang hanya dapat anda temukan dalam litelatur,
bergaulah dan perhatikan kebaikan teman, sahabat atau orang yang membci kita. Sederhana,
sangat dekat dalam keseharian anda dan anda kana terus termotifasi oleh sisi
baik mereka.
Berusahalah sedapat mungkin senantiasa dalam wilayah kesadaran
untuk memperbaiki diri, berusaha perlahan, tidak buruk sangka kepada ampunan
Allah, dan memaklumkan bahwa diri tidak akan luput dari godaan untuk berbuat lalai
dan dosa. Jangan menghakimi diri dengan
rasa bersalah, putus asa kemudian enggan melanjutkan kebaikan. Kepayahan seorang hamba dalam memperbaiki
dirinya mustahil tidak disukai Allah, sedangkan Allah Maha mensyukuri.
Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan
diri. (QS. 2:222)
“Maka mengapa
mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Maidah [5] ayat 74)
(QS Al-Maidah [5] ayat 74)
Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala
(dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum
kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah
kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang
kafir". al-Baqarah, 286

Tidak ada komentar:
Posting Komentar