Selasa, 06 November 2012

RECOVERY MUSLIMAH

-->

by aa.makhtaf


Rujukan seorang muslimah dalam usaha menata dan memelihara dirinya adalah nilai-nilai qurani, sunnah Rasul dan nilai-nilai etika  yang berlaku disekitar lingkungan sosialnya, keluarga, rumah tangga, pertemanan, bertetangga atau dalam pergaulan bermasyarakat yang lebih luas, yaitu tata laku kesopanan yang menyebabkan setiap orang disekitarnya menjadi nyaman_ syukur jika dapat menjadi teladan dan menginspirasi.
Wanita sholeha wajahnya memancarkan energy positip yang memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang memandangnya, tingkah lakunya dan tutur katanya memberikan sinyal keimanan dan ketakwaan, hingga setiap orang yang berdekatan dengannya ikut merasakan ajakan keimanan dan ketakwaannya.
Sekurang-kurangnya ada tiga prilaku kebiasaaan buruk wanita muslimah yang menjadi perhiasan hati berpenyakit:
1.      Enggan berbuat baik kepada sesame, padahal ia memilki kemudahan untuk melakukannya. Sekedar meminjamkan buku bacaan atau sekedar member kelapangan tempat duduk.
2.      malas mengerjakan ibadah sunnah (shalat dhuha, tahajjud, shaum sunnah, atau sekedar membaca alquran)
3.      berleha-leha dengan perbuatan mubah namun berlebihan dan melalaikan. Asyik nonton acara tv kesayangan, sampai menunda panggilan shalat.

Wanita sholeha bukan berarti sempurna luput dari cacat dan cela, karena manusia sebagaimana fitrahnya memilki keseimbangan bagi hakekat penghambaannya yaitu kelebihan dan kekurangan, juga dilengkapi potensi akan berbuat kesalahan dan dosa.  Ada masa seorang wanita akan terpeleset dan limbung dalam kesalahan dan dosa, kelalaian dan lupa, entah sebagai hamba Allah dalam mennegakkan kewajiban ibdahnya, maupun sebagai wanita yang tidak jauh perannya yaitu sebagai ibu, anak, istri, sahabat dan pribadi yang bermasyarakat. Ada kalanya wanita tersandung khilaf terkurung kebiasaan buruk, terpeleset karena hanyut pada apa yang menarik hatinya.  Rasa cinta cemburu, ingin mendapatkan pujian sering kali membuka pintu bagi wanita untuk terjebak dalam tingkah laku dan kebiasaan buruk.  Maka sudah selayaknya seorang muslimah yang senantiasa mengharapkan Ridha Allah, bertekad taubatan nasuha, intropeksi dan segera memperbaiki diri dan menata ulang dirinya, sebagai usaha hijrah dan jihadnya, memperbaiki keburukan menjadi kebaikan, berpindah dari lalai kepada ketaatan dan meningkatkan kualitas kebaikan yang telah ada dalam ibadah dan mu’amalah.
Mari kita perbaiki diri dan bagaimana nilai-nilai quranni dan sunnahnya menuntun kita untuk terus berusaha menjadi baik, lebih baik dan memelihara kebaikan serta tidka berputus asa dalam usaha perbaikan.
A.    Tuntunan taubatan nasuha
Ucapan istigfar merupakan pembuka pintu utama tekad untuk sungguh-sungguh bertaubat, ISTIGFAR, merupakan kesadaran diri dan kewaspadaan atas segala sikap dan lintasan hati yg didalamnya terkandung penyakit. Istigfar merupakan perwujudan dari kerendahan hati dan pengakuan diri atas Dia Allah yang maha mengawasi. Istigfar , merupakan kehendak untuk memperbaiki diri dan mensucikan hati, istigfar tidak hanya sekedar ritual, melainkan melahirkan tingkah laku yang senantiasa terjaga dan mawas diri. Istigfar merupakan pintu pertama.
Dari Abu Hurairah Rasul saw bersabda: demi Allah aku Istigfar dan bertaubat kepada Allah sehari lebih 70x (HR.Bukhari) kemudian di iringin dengan salah satu doa Rasulullah:
Dari Tsaubah, Rasulullah saw ketika selesai shalat mengucapkan istigfar sebanyak 3x lalu berdoa: Allahhumma antassalamu wa minkassalamu tabaarakta dzal jalaa li walikrami.
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Maidah [5] ayat 74)
Hakekat taubat, adalah tekad yang sungguh-sungguh dengan disertai tindakan nyata yang berusaha  memperbaiki diri, di sertai kekuatan hati untuk tidak bosan dan berputus asa.  Maka seorang wanita muslimah, taubatnya adalah perubahan diri kea rah yang lebih baik, tidka lagi hanya penyesalan, namun perbuatan nyata. Yang semula menunda-nunda shalat kini ia bersegera, yang semua melalikan waktu kini ia memastikan diri setiap hari berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikan. Taubat adalah perubahan bukan angan spiritual.
B.     Intropeksi diri
Dalam suasana hening, nyaman….mungkin saat telah selesai shalat tahajud, ketika suasana malam begitu syahdu…tanyalah kepada diri tentang:
1.      Apakah Kebaikan yang seharusnya dilakukan namun di tinggalkan?
2.      Apakah dosa yang kerap dilakukan hingga hati menjadi gersang?
3.      Sudahkah diri ini memberikan manfaat bagi orang laian, atau sekurang-kurangnya untuk diri sendiri agar tidak menjadi beban bagi orang laian?
4.      Renungkanlah, shalat, puasa, tadaarus, dzikir dan ibadah-ibdah sunnah yang mendekatkan diri kepada Allah, sudah khusukah?, sudah tumaninahkah? Sudah istikomahkah?. Jangan-jangan yang wajibpun sering dilakukan sambil berlalu.
Bertanyalah sebanyak-banyaknya tentang perangai diri, tutur kata, tingkah laku, prasangka buruk, boleh jadi malah mencerminkan pribadi yang kusut masai, membuat orang lain tidak nyaman, melalikan orang-orang yang mendekat, bertanyalah sebanyak-banyaknya, sudahkah tubuh ini kita syukuri dengan merawatnya luar dan dalam, dijaga kebersihannya, dijaga keindahannya dan di jaga kesehatannya?.  Dan bertanyalah tentang bagaimana memanfaatkan waktu, karena disanalah kunci motifasinya…..waktu yang di isi dengan keburukan dan kelalaian maka buruklah diri, dan waktu yang di isi dengan ketaatan dan kebaikan maka baiklah diri.
C.    Tips dan Trik Recovery
Semangat dan langkah kongkrit memperbaiki diri, seringkali terpatahkan oleh kepribadian diri yang terlewat untuk kita kenali terlebih dahulu, "kamu pasti akan di uji dengan hartamu dan DIRIMU..."Qs.3:186 Setiap diri memiliki kecenderungan unik yang akan mengujinya seumur hidup, membaca diri akan membuat anda mengenal musuh dlm diri sendiri. Manusia diciptakan punya rasa bosan, keluh kesah, malas dan suka tergesa-gesa, kikir bahkan kepada diri sendiri.  Itulah sifat fitrah manusia, belum lagi setiap diri diciptakan memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang akan menentukan bagaimana ia merespon setiap kejadian dan keadaaan diri dan lingkungannya.  Saya sarankan anda membaca buku berjudul “ membaca kepribadian” karya Gergory G young.  Buku tersebut akan membantu kita lebih mengenal diri.  Semakin kita mengenal sifat baik dan buruk dalam diri, maka akan semakin mudah kita memperbaiki diri dan mengendalikannya bahkan mengkondisikan diri.  Proses recoveri diri...seperti mengambil duri dalam daging...Membaca pribadi diri, seni membawa diri,memaklumi diri,.. ujian dari dalam diri akan seumur hidup, semakin mengenal diri semakin tahu mensiasati diri. Maka dalam proses perbaikan diri lakukanlah langkah berikut:
1.      Membaca diri, kenali sifat dan kebiasaan diri….dalam uasaha ini kita bleh membuka diri untuk menerima sebanyak mungkin penilaian orang-orang disekitar kita. Bertanyalah dan biarkan komentar mereka membantu kita membaca diri.
2.      Mulailah dengan yang paling mudah, terutama jika  kita termasuk orang yang pemalas dan mudah bosan. Tetapkan kebiasaan baik yang paling mudah, misalnya sekedar mengerjakan shalat pada waktunya meski diakhir waktu, atau sekedar mau mendengarkan ceramah di radio jika masih enggan mendatangi majlis ta’lim
3.      Mengikuti tuntunan alquran dan sunnah. Allah memberikan kemudahan, maka ambillah kemudahan itu, Allah menjanjikan ampunan maka jangan mempersulit diri dengan rasa putus asa, Allah memberikan pahala bagi niat yang baik dan dua pahala setelah melakukannya maka mulailah motivasi diri dengan niat yang baik.
D.    Pengendalian diri
Pengendalian diri adalah fase paling menantang dalam usaha kita memperbaiki diri, karena ssat itu kita akan berhadapan dengan diri sendiri.  Rasa malas, bosan, kesibukan dan godaan menegnai sesuatu yang menyenangkan seringkali sedikit-demi sedikit menarik kita untuk kembali lalai.  Maka strategi pengendaliandiri bukan hanya usaha menahan diri atau memaksakan diri, namun bagaimana kita bias menemukan cara agar kita dapat mempertahankan apa yang telah dimulai.  Ikutilah langkah-langkah berikut:
1.      Miliki pergaulan dengan lingkungan dan orang-orang yang sholeh, yang dapat member kita teladan dan motivasi positip, sekurang-kurangnya dapat menumbuhkan rasa malu ketika kita merasa tidak sebaik mereka.
2.      Mendatangi majlis ta’lim, recovery hati dan cara berfikir dengan mendatangi tempat-temapat dimana banyak disebut nama Allah, banyak mendengar ajakan kepada kebaikan, bertemu dan duduk bersama mereka yang berkehendak untuk memperbaiki diri. Lebih banyak mendengar maka akan lebih banyak intropeksi diri
3.      Tanamkan budaya baca, agar kita dapat terus memperkaya wawsan dan menyegarkan inspirasi positif
4.      Pelihara silaturahmi, datangilah mereka yang dapat melembutkan hati, membantu kita untuk ingat bersyukur dan merendahkan hati. Datangi jangan selalu ingin di datangi
5.      Lakukan produktifitas baru setiap hari, dari yang mudah saja. Sekedar membersihkan pakaian, mengepel lantai atau sekedar menawarkan kebaikan untuk adik, kaka, orang tua….mungkin sekedar menyapu halaman yang akan di lalui tetangga. Intinya apapun peran kita, pastikan kita produktif meski tidak menjatuhkan keringat
6.      Ganti ibadah atau kebaikan yg tertinggal atau bosan , dengankebaikan yang lain atau sekurang-kurangnya gantilah dengan memperbanyak berdzikir.
7.      Tutup perbuatan buruk yang telah terlanjur dilakukan dengan perbuatan baik yang lain. Shalat yang tidak khusuk ganti dengan sedekah, perkataan yang buruk ganti dengan meminta maaf.
8.      Bergabunglah dengan komunitas yang dapat menginspirasi, atau sekedar ikut berperan aktif dengan kegiatan lingkungan sekitar.
9.      Shalat berjama’ah, usahakan meski hanya satu waktu atau sekedar dilakukan di rumah
10.  Baik sekali jika seorang wanita memiliki keterampilan rumah tangga yang bernilai ekonomis, lakukanlah meski dengan modal yang sangat sedikit dan keuntungan yang tidak banyak. Lakukan maka kita akan semakin semangat
11.  Hati menjadi tentram dan lembut, jika kita membiasakan diri mempermudah orang lain. Member memperkaya hati.
12.  Selalulah update wawasan baru terutama yang berhubungan dengan peran atau aktifitas kita sehari-hari. Jika anda seorang penulis anda bias mengikuti situs yang meng update informasi tentang karya tulis baru atau sekedar berbagi cerita dengan sesame penulis.
13.  Temukanlah figure yang dapat menjadi motifasi positif, tidak harus para tokoh atau para ulama yang hanya dapat anda temukan dalam litelatur, bergaulah dan perhatikan kebaikan teman, sahabat atau orang yang membci kita. Sederhana, sangat dekat dalam keseharian anda dan anda kana terus termotifasi oleh sisi baik mereka.
Berusahalah sedapat mungkin senantiasa dalam wilayah kesadaran untuk memperbaiki diri, berusaha perlahan, tidak buruk sangka kepada ampunan Allah, dan memaklumkan bahwa diri tidak akan luput dari godaan untuk berbuat lalai dan dosa.  Jangan menghakimi diri dengan rasa bersalah, putus asa kemudian enggan melanjutkan kebaikan.  Kepayahan seorang hamba dalam memperbaiki dirinya mustahil tidak disukai Allah, sedangkan Allah Maha mensyukuri.
 Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. 2:222)
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS Al-Maidah [5] ayat 74)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". al-Baqarah, 286


Tidak ada komentar:

Posting Komentar