Perkataan Istri yang Menuai Cinta
perkataan yang baik, adalah cermin kebijakan hati. meskipun perkataan
yang terkesan baik bukan berarti perkataan yang benar. namun perkataan
seorang istri pada suaminya adalah perkataan yang dibingkai kecintaan,
ketulusan dan ketaatan karena Allah semata. meskipun seorang wanita
senantiasa di ikuti sifat-sifat yang menjadikannya begitu ekspresif melahirkan
rasa cemburu dan rasa takut, namun jika hatinya senantiasa dibawa pada rasa
syukur maka perkataannya akan perlahan tertata dan bijak, meski kebijakan
berproses pada setiap orang yang senantiasa berusaha memperbaiki perkataannya.
sebaik-baik rujukan perkataan adalah apa yang diajarkanNya
(Alquran).mendekatkan diri dengan Alquran akan membawa hati untuk mengendalikan
perkataan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah
kalian kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh akan
memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan
barangsiapa yang menta’ati Alloh dan RosulNya maka sungguh dia telah mendapat
kemenangan yang besar.” QS.
Al-Ahzab[]:71-72
maka perkataan dalam rumah tangga adalah cermin kualitas iman, karena
perkataan dari orang yang timpang imannya akan dilatar belakangi oleh rasa
takut dan prasangka, dua penyakit itu akan membuka dusta, siasat,
merendahkan pasangan, mencari-cari kesalahan dan menafikan nasehat.
wanitaku,....lisanmu ekspresi rasa, namun lebih banyak rasa yang tidak sanggup
terekspresi melalui lisanmu, disebabkan sifat lembutmu, sifat keibuanmu, sifat
welas asihmu, sifat tiada berdayamu. sedangkan seorang suami diciptakan bertabeat
angkuh dan memimpin, termasuk dalam perkataan...ia ingin didengar, di taati
namun hatinya umpama hati seorang pria yang akan merasa bangga jika perkataan
istri tercintanya menyiratkan hati yang bersandar kepadanya, merajuk merayu
hatinya, mengajaknya untuk membaca rasa melalui ekspresi kata yang
tunduk. namun jika kau tidak suka dengan suatu perkataan suami atau
penjelasan karena terkandung banyak kesalahan, 'tangkaplah" idenya, boleh
jadi disanalah lautan ilmu yang ia belum mengerti, tapi dengan kelebihanmu
memahami kata dengan rasa, kau bisa menggalinya lebih dalam.
perkataan dalam komunikasi rumah tangga, umpama seni melukis di atas
kanfas....tidak hanya berisi logika yang di tegakkan berdasarkan benar atau
salah, namun seni cara mengekspresikan kata hingga hati pasangan tidak hanya
menerima informasi namun hatinya tersentuh oleh sifat lembut dan rendah hati,
logikanya diajak bukan diperintah, tidak melulu dibelenggu oleh batasan
mengenai salah atau benar.
menikah itu mudah, namun didalamnya engkau akan di tanya mengenai tiga
serangkai yang saling terkait yaitu , perkataan yang baik, kebijakan dan
syariat. dalam pernikahan, tidak hanya mengenai salah dan benar, tetapi
rasa hati terhadap kebenaran ataupun kesalahan. karena terkadang suatu perkara
benar menurut syariat namun melukai rasa hati hingga syariatpun tegaknya jadi
tidak benar, dikali lain suatu perkara benar menurut rasa hati namun mengakali
syariat hingga rasa hati jadi penyakit hati.
perkataan umpama bumbu yang memikat hati, mengajak hati merunduk,
mengajak hati merayu merajuk, mengajak hati pada rasa saling menyayangi bukan
menghakimi, mengajak hati saling mensyukuri bukan mengingkari, maka perkataan
seorang istri umpama syair indah yang membujuk hati suami dari tabeat ke ''ke
akuannya,'' dan suami yang keangkuhannya hatinya ditundukkan kepada Ridha
Allah…akan mudah terpikat pada perkataan yang mengajak merajuk yang diselimuti
oleh energi ketulusan hati seorang istri. Perkataan seorang istri dari
hati akan sampai dan menyentuh hati, hati suami yang angkuh namun tunduk pada
Illahi.
Bilakah Perkataan dalam Rumah Tangga akan saling
membahagiakan?
wanitaku, jangan hilangkan dzikir dari hati dan lisanmu,
ketika dzikir hilang dari rasa hati,.......maka reduplah cahaya hati antara
engkau sebagai istri, suami sebagai pemimpin dan jadilah buruk benih-benih yang
kau tanam melalui perkataan. Ucapmu jadi ucap yang diliputi nafsu
gulita, namun perkataan yang di hiasi dzikir dengan senantiasa mengharap Ridha
Allah akan membangun kekokohan ikatan hati antara suami dan istri.
wanitaku, dzikir lisanmu, dzikir hatimu akan mempercantik perkataan karena
cemburumu, akan memolekan rayuanmu, akan menentramkan hati suamimu.
wanitaku, jangan biarkan hilang rasa iman dan takwa.....
ada hubungannya antara iman takwa, dengan kebaikan perkataan....jika suami
istri terasa gersang kurang sayang, intropeksi mengenai iman dan takwa, boleh
jadi ada penyakit disana....jadi jangan ditanya ''apakah dikau masih
mencintaiku?....tapi sujudlah, hati yang sujud....akan saling menyentuh.... perkataanmu
mengekspresikan rasa syukur, perkataan melalui sinar wajahmu akan
mengekspresikan hati yang merayu, perkataan melalui bahasa tubuhmu akan
mengajak suami bukan menggurui.
Dan seluruh perkataanmu dibingkai syukur yang menggoda
suami untuk merundukkan hati, mengajak suami untuk memperbaiki diri, merayu
suami untuk semakin terpuji. Suami merasa dibutuhkan, merasa di unggulkan namun
tetap tidak mengecilkan keakuannya sebagi imam dalam rumah tangga, maka semakin
terlindunglah hati sebagai istri disebabkan pandainya ia mengemas perkataan,
bukan kemasan kepalsuan namun ketulusan dan rasa syukur.
Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri suaminya
sedang ia selalu membutuhknnya.HR.nasa'i
siapa yang Allah amanahkan suami kepadanya, muliakanlah.
tabeat pria angkuh dan memimpin, dekati dengan perkataan yang merunduk. Boleh
jadi tiba saat tingkah suami menguji, ucap suami menyakiti, laku suami
menghianati, namun seorang istri memiliki sifat halus yang mampu mengakali
hatinya, hingga maafnya lebih dekat daripada marahnya, sayangnya lebih merayu
daripada cemburunya.
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih
baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima).
Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 263).
maka hati yang senantiasa dibawa mengingat Allah, iman dan takwa yang
terus diperbaiki, rasa syukur yang tetap dipelihara menjadi pandangan istri
kepada suami, hati yang pemaaf dan rasa sayang, akan melahirkan perkataan istri
yang terpuji.
Waktu Terbaik menguntai kata menuai cinta
1. Biasakanlah shalat berjamaah bersama suami, meski hanya satu waktu
sehari, ajak
suami untuk membiasakannya tanpa membuatnya merasa
diwajibkan,
2. Saat berdua dalam peraduan, sampaikanlah rayuan yang menyentuh birahi
hingga
hati
4. Saat membangunkan tidur suami untuk tahajjud atau sekedar
mengingatkan shalat,
rayulah suami dari lelapnya dengan perkataan halus.
5. Saat menemani suami menikmati hidangan
6. Saat, mendampingin suami dalam perjalanan
kebersamaan, akan membawa pada pengenalan…waktu akan memahamkan seorang
istri mengenai waktu-waktu terbaik mendekati suami. jangan ragu mengekspresikan rayuan, ''ajakan,'' rasa cinta hingga cemburu, karena itulah perhiasan perkataan seorang istri kepada suaminya, ia tidak menggurui, tidak mencari-cari kesalahan, tidak menyelidik tidak juga menghakimi, perkataan seorang istri senantiasa umpama air, jik bersih hati maka baiklah perkataan. Hati yang sabar, yang
syukur, yan rendah hati akan menemukan perkataan terpuji, hingga merayu hati
atau sekurang-kurangnya menentramkan hati sendiri, karena perkataan cermin
nilai iman. Iman yang baik maka baiklah perkataan dan perkataan yang baik
membawa pada ketentraman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar