Rabu, 09 Januari 2013

Perkataan Istri yang Menuai Cinta



Perkataan Istri yang Menuai Cinta


perkataan yang baik, adalah cermin kebijakan hati. meskipun perkataan yang terkesan baik bukan berarti perkataan yang benar.  namun perkataan seorang istri pada suaminya adalah perkataan yang dibingkai kecintaan, ketulusan dan ketaatan karena Allah semata.  meskipun seorang wanita senantiasa di ikuti sifat-sifat yang menjadikannya begitu ekspresif melahirkan rasa cemburu dan rasa takut, namun jika hatinya senantiasa dibawa pada rasa syukur maka perkataannya akan perlahan tertata dan bijak, meski kebijakan berproses pada setiap orang yang senantiasa berusaha memperbaiki perkataannya. sebaik-baik rujukan perkataan adalah apa yang diajarkanNya (Alquran).mendekatkan diri dengan Alquran akan membawa hati untuk mengendalikan perkataan.

 “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Alloh dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Alloh akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barangsiapa yang menta’ati Alloh dan RosulNya maka sungguh dia telah mendapat kemenangan yang besar.” QS. Al-Ahzab[]:71-72

maka perkataan dalam rumah tangga adalah cermin kualitas iman, karena perkataan dari orang yang timpang imannya akan dilatar belakangi oleh rasa takut dan  prasangka, dua penyakit itu akan membuka dusta, siasat, merendahkan pasangan, mencari-cari kesalahan dan menafikan nasehat.  wanitaku,....lisanmu ekspresi rasa, namun lebih banyak rasa yang tidak sanggup terekspresi melalui lisanmu, disebabkan sifat lembutmu, sifat keibuanmu, sifat welas asihmu, sifat tiada berdayamu.  sedangkan seorang suami diciptakan bertabeat angkuh dan memimpin, termasuk dalam perkataan...ia ingin didengar, di taati namun hatinya umpama hati seorang pria yang akan merasa bangga jika perkataan istri tercintanya menyiratkan hati yang bersandar kepadanya, merajuk merayu hatinya, mengajaknya untuk membaca rasa melalui ekspresi kata yang tunduk.  namun jika kau tidak suka dengan suatu perkataan suami  atau penjelasan karena terkandung banyak kesalahan, 'tangkaplah" idenya, boleh jadi disanalah lautan ilmu yang ia belum mengerti, tapi dengan kelebihanmu memahami kata dengan rasa, kau bisa menggalinya lebih dalam. 

perkataan dalam komunikasi rumah tangga, umpama seni melukis di atas kanfas....tidak hanya berisi logika yang di tegakkan berdasarkan benar atau salah, namun seni cara mengekspresikan kata hingga hati pasangan tidak hanya menerima informasi namun hatinya tersentuh oleh sifat lembut dan rendah hati, logikanya diajak bukan diperintah, tidak melulu dibelenggu oleh batasan mengenai salah atau benar.  

menikah itu mudah, namun didalamnya engkau akan di tanya mengenai tiga serangkai yang saling terkait yaitu , perkataan yang baik, kebijakan dan syariat.  dalam pernikahan, tidak hanya mengenai salah dan benar, tetapi rasa hati terhadap kebenaran ataupun kesalahan. karena terkadang suatu perkara benar menurut syariat namun melukai rasa hati hingga syariatpun tegaknya jadi tidak benar, dikali lain suatu perkara benar menurut rasa hati namun mengakali syariat hingga rasa hati jadi penyakit hati. 

perkataan umpama bumbu yang memikat hati, mengajak hati merunduk, mengajak hati merayu merajuk, mengajak hati pada rasa saling menyayangi bukan menghakimi, mengajak hati saling mensyukuri bukan mengingkari, maka perkataan seorang istri umpama syair indah yang membujuk hati suami dari tabeat ke ''ke akuannya,'' dan suami yang keangkuhannya hatinya ditundukkan kepada Ridha Allah…akan mudah terpikat pada perkataan yang mengajak merajuk yang diselimuti oleh energi ketulusan hati seorang istri.  Perkataan seorang istri dari hati akan sampai dan menyentuh hati, hati suami yang angkuh namun tunduk pada Illahi.

Bilakah Perkataan dalam Rumah Tangga akan saling membahagiakan?


wanitaku, jangan hilangkan dzikir dari hati dan lisanmu, ketika dzikir hilang dari rasa hati,.......maka reduplah cahaya hati antara engkau sebagai istri, suami sebagai pemimpin dan jadilah buruk benih-benih yang kau tanam melalui perkataan.   Ucapmu jadi ucap yang diliputi nafsu gulita, namun perkataan yang di hiasi dzikir dengan senantiasa mengharap Ridha Allah akan membangun kekokohan ikatan hati antara suami dan istri.  wanitaku, dzikir lisanmu, dzikir hatimu akan mempercantik perkataan karena cemburumu, akan memolekan rayuanmu, akan menentramkan hati suamimu.

wanitaku, jangan biarkan hilang rasa iman dan takwa..... ada hubungannya antara iman takwa, dengan kebaikan perkataan....jika suami istri terasa gersang kurang sayang, intropeksi mengenai iman dan takwa, boleh jadi ada penyakit disana....jadi jangan ditanya ''apakah dikau masih mencintaiku?....tapi sujudlah, hati yang sujud....akan saling menyentuh.... perkataanmu mengekspresikan rasa syukur, perkataan melalui sinar wajahmu akan mengekspresikan hati yang merayu, perkataan melalui bahasa tubuhmu akan mengajak suami bukan menggurui.  

Dan seluruh perkataanmu dibingkai syukur yang menggoda suami untuk merundukkan hati, mengajak suami untuk memperbaiki diri, merayu suami untuk semakin terpuji. Suami merasa dibutuhkan, merasa di unggulkan namun tetap tidak mengecilkan keakuannya sebagi imam dalam rumah tangga, maka semakin terlindunglah hati sebagai istri disebabkan pandainya ia mengemas perkataan, bukan kemasan kepalsuan namun ketulusan dan rasa syukur.

Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri suaminya sedang ia selalu membutuhknnya.HR.nasa'i

siapa yang Allah amanahkan suami kepadanya, muliakanlah. tabeat pria angkuh dan memimpin, dekati dengan perkataan yang merunduk. Boleh jadi tiba saat tingkah suami menguji, ucap suami menyakiti, laku suami menghianati, namun seorang istri memiliki sifat halus yang mampu mengakali hatinya, hingga maafnya lebih dekat daripada marahnya, sayangnya lebih merayu daripada cemburunya.

 “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 263).

maka hati yang senantiasa dibawa mengingat Allah, iman dan takwa yang terus diperbaiki, rasa syukur yang tetap dipelihara menjadi pandangan istri kepada suami, hati yang pemaaf dan rasa sayang, akan melahirkan perkataan istri yang terpuji.
  
 Waktu Terbaik menguntai kata menuai cinta

1. Biasakanlah shalat berjamaah bersama suami, meski hanya satu waktu sehari, ajak   
    suami untuk membiasakannya tanpa membuatnya merasa diwajibkan,
2. Saat berdua dalam peraduan, sampaikanlah rayuan yang menyentuh birahi hingga
    hati
4. Saat membangunkan tidur suami untuk tahajjud atau sekedar mengingatkan shalat,
    rayulah suami dari lelapnya dengan perkataan halus.
5. Saat menemani suami menikmati hidangan
6. Saat, mendampingin suami dalam perjalanan

kebersamaan, akan membawa pada pengenalan…waktu akan memahamkan seorang istri mengenai waktu-waktu terbaik mendekati suami. jangan ragu mengekspresikan rayuan, ''ajakan,'' rasa cinta hingga cemburu, karena itulah perhiasan perkataan seorang istri kepada suaminya, ia tidak menggurui, tidak mencari-cari kesalahan, tidak menyelidik tidak juga menghakimi, perkataan seorang istri senantiasa umpama air, jik bersih hati maka baiklah perkataan. Hati yang sabar, yang syukur, yan rendah hati akan menemukan perkataan terpuji, hingga merayu hati atau sekurang-kurangnya menentramkan hati sendiri, karena perkataan cermin nilai iman.  Iman yang baik maka baiklah perkataan dan perkataan yang baik membawa pada ketentraman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar